Ada yang bilang, lapar di tengah malam itu bukan soal perut kosong—tapi lebih ke kebutuhan jiwa. Dan kalau kamu sedang berada di Semarang, khususnya di sekitar Simpang Lima, kebutuhan itu bisa terjawab dengan mudah. Bukan lewat delivery makanan cepat saji, tapi lewat warung makan 24 jam yang setia buka, bahkan saat kota mulai tidur.
Simpang Lima menurut travelkusuka bukan sekadar ikon kota, tapi juga titik strategis yang dikelilingi oleh hotel, kampus, kantor pemerintahan, dan pusat perbelanjaan. Di siang hari, kawasan ini sibuk dan semarak. Tapi di malam hari, justru muncul wajah lain dari Simpang Lima: lampu kota yang redup, lalu lintas mulai lengang, dan aroma dari warung-warung yang tetap mengepul jadi daya tarik tersendiri buat para penjelajah malam, pekerja shift, mahasiswa begadang, hingga wisatawan yang lapar tiba-tiba.
Nah, buat kamu yang lagi mencari tempat makan 24 jam yang bukan cuma sekadar “buka terus”, tapi juga worth it dari segi rasa, harga, dan suasana, kamu datang ke artikel yang tepat. Kita akan bahas warung-warung legendaris, hidden gem, sampai tempat nongkrong yang bisa jadi basecamp diskusi tengah malam. Semuanya ada di sekitar Simpang Lima, dan semuanya punya cerita.
1. Warung Makan Gudeg Mbak Tum — Ikon Tengah Malam yang Ngangenin
Buat yang mengira gudeg hanya jadi menu sarapan, Warung Mbak Tum membuktikan sebaliknya. Terletak di Jalan Menteri Supeno, hanya sekitar 300 meter dari Simpang Lima, warung ini buka 24 jam penuh dan jadi favorit para sopir, mahasiswa, hingga pegawai shift malam. Menunya sederhana: gudeg nangka manis, sambal krecek, telur pindang, dan ayam suwir.
Meski tempatnya sederhana, rasanya nggak main-main. Ciri khas gudeg Semarangan yang lebih gurih dibanding Jogja terasa kuat di sini. Harga seporsinya berkisar antara Rp18.000–Rp25.000 tergantung lauk. Dan menariknya, kamu bisa minta “porsi hemat” atau tambahan sambal gratis. Di tahun 2024 lalu, warung ini bahkan sempat viral di TikTok karena disebut “surganya gudeg di malam hari”.
2. Bubur Ayam Bang Yono — Konsisten dan Ramai Sejak Era BBM Chat
Di pojok Jalan KH Ahmad Dahlan, hanya selangkah dari pusat Simpang Lima, kamu bisa menemukan Bubur Ayam Bang Yono. Uniknya, meski identik sebagai makanan pagi hari, bubur ayam di sini selalu ramai hingga subuh. Dibuka sejak tahun 2008, warung ini dikenal dengan porsi buburnya yang besar dan topping yang melimpah—kerupuk, cakwe, suwiran ayam, telur, kacang kedelai goreng, dan kuah kaldu hangat.
Warung ini punya pelanggan setia dari beragam kalangan. Di malam hari, kamu bisa lihat tukang ojek online, mahasiswa, hingga pasangan muda yang lagi cari “comfort food”. Harga semangkuk bubur sekitar Rp20.000–Rp22.000, dan selalu habis walau dini hari. Kuncinya ada di kuah kaldu ayam yang gurihnya menempel di lidah.
3. Nasi Goreng Babat Pak Karmin — Malam, Pedas, dan Legendaris
Kalau ngomongin nasi goreng malam hari di Semarang, nama Pak Karmin pasti muncul. Meskipun cabang utamanya ada di dekat Jembatan Mberok, kamu bisa temukan versi 24 jam-nya di area Simpang Lima, tepatnya di dekat taman Pahlawan. Warung ini bukan hanya favorit lokal, tapi juga jadi langganan para artis yang mampir ke Semarang.
Yang paling terkenal? Nasi goreng babatnya. Pedas, berminyak, dan nikmat. Porsi jumbo, harga mulai Rp25.000, dan ada varian spesial dengan babat goreng renyah. Menurut data Kuliner Semarang Update 2024, nasi goreng babat jadi menu paling dicari nomor dua di kota ini, setelah soto.
4. Warung Kopi Tepi Jalan — Basecamp Diskusi dan Ide Kreatif
Bukan warung makan konvensional, tapi warung kopi tepi Jalan Pahlawan yang selalu buka 24 jam ini bisa jadi tempat makan darurat juga. Kenapa? Karena mereka nggak cuma jual kopi sachet dan mie instan, tapi juga nasi bungkus, gorengan, hingga roti bakar keju cokelat.
Tempat ini jadi tempat favorit mahasiswa dari Undip, Unnes, dan UIN yang lagi begadang ngerjain tugas atau diskusi komunitas. Suasananya santai, ada bangku kayu panjang, dan colokan listrik melimpah. Kadang, ada yang sambil main gitar atau diskusi politik. Walaupun sederhana, warung seperti ini punya nilai sosial tinggi di kalangan anak muda.
5. Pecel Lele Lamongan Mas Dion — Tempat Lapar Nasi Jam 2 Pagi
Pecel lele mungkin sudah jadi “warung rakyat” di banyak kota, tapi Mas Dion punya keunikan: sambal terasinya yang “nendang”. Berlokasi di belakang Plaza Simpang Lima, tempat ini buka full 24 jam dan jadi tempat favorit bagi siapa pun yang kelaparan antara pukul 1 sampai 4 pagi.
Menu utamanya tentu saja lele goreng, ayam goreng, tahu-tempe, plus lalapan dan sambal. Tapi ada juga varian lain seperti nila bakar dan telur dadar sambal matah. Harga terjangkau: mulai Rp17.000 per porsi lengkap. Menurut data dari Sosiokuliner Indonesia 2025, pecel lele adalah menu malam paling dicari nomor satu oleh pekerja shift di Indonesia.
Kenapa Warung 24 Jam Penting di Tengah Kota Wisata?
Fungsi warung makan 24 jam bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik. Di kota seperti Semarang yang mulai menata diri sebagai destinasi wisata unggulan Jawa Tengah, tempat makan malam hari justru jadi penopang ekosistem turisme. Bayangkan wisatawan habis keliling kota, kuliner malam seperti ini bisa jadi penutup sempurna.
Bahkan dari sisi keamanan dan ekonomi lokal, warung 24 jam bisa membantu: mereka menciptakan aktivitas yang mencegah kawasan sepi total di malam hari, memberi pekerjaan kepada penjaga malam, dan menjaga siklus ekonomi berputar selama 24 jam penuh. Selain itu, warung seperti ini kerap menjadi tempat bersilangan kelas sosial: dari tukang parkir sampai manajer hotel, semua bisa duduk bareng makan nasi goreng.

Saya adalah Priyo Harjiyono, S.Pd, M.Kom bekerja sebagai guru produktif TKJ SMK Bina Harapan yang sering mengarahkan siswa melaksanakan prakerin dan persiapan masuk ke dunia kerja, selain itu saya adalah seorang blogger, SEO specialist dan sering menjadi narasumber untuk implementasi digital bisnis UMKM
Ingin produk/website Anda kami ulas? Silahkan klik tombol dibawah ini







