Lagi-lagi media sosial geger karena drama. Tapi kali ini bukan soal cinta segitiga atau perebutan harta warisan. Sebuah drama asal Malaysia berjudul Bidaah (atau dikenal juga dengan judul Broken Heaven) mendadak viral di Indonesia. Bukan cuma karena alur ceritanya yang intens, tapi juga karena isu berat yang diangkat: penyalahgunaan agama oleh tokoh fiktif bernama Walid Muhammad, pemimpin sekte Jihad Ummah.
Kalau kamu scroll TikTok atau Twitter minggu ini, hampir pasti akan ketemu cuplikan adegan Walid yang mengenakan sorban dan berbicara lembut tentang “jalan menuju surga” – yang ternyata adalah jalan manipulatif untuk menikahi perempuan-perempuan muda lewat praktik nikah batin. Banyak warganet Indonesia merasa kisah Walid sangat relate dengan kasus nyata yang pernah mencuat di sini. Drama layartancap ini memicu diskusi besar: kenapa masih ada saja orang yang jatuh dalam jebakan sosok manipulatif yang mengatasnamakan agama?
Artikel ini nggak sekadar bahas dramanya, tapi mengajak kita menengok lebih dalam: bagaimana manipulasi keagamaan bekerja, kenapa masih banyak korban terjebak, dan yang terpenting — gimana kita bisa melindungi diri dan orang sekitar dari bahaya yang sama. Yuk, kita bedah bareng-bareng.
Ketika Agama Dijadikan Alat Manipulasi
Bidaah memang fiktif, tapi pesannya nyata. Tokoh Walid Muhammad adalah gambaran dari realitas yang sering luput dari pengawasan publik — pemuka agama gadungan yang memanfaatkan simbol-simbol religius untuk menebar pengaruh. Dalam serial ini, Walid mengklaim dirinya sebagai utusan spiritual, lalu menggiring pengikutnya untuk percaya bahwa “menikah batin” dengannya adalah jalan menuju surga.
Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi mengatakan, pelaku seperti Walid sering memanfaatkan atribut keagamaan untuk membangun citra kharismatik. Sorban, jubah, cara bicara yang lembut, serta petuah-petuah spiritual dijadikan alat untuk menumbuhkan rasa kagum dan percaya dari korban. Kesannya seperti suci dan bijak, padahal di balik itu ada kepentingan pribadi yang gelap.
Ini bukan cuma terjadi dalam drama. Beberapa tahun lalu, Indonesia juga pernah dihebohkan dengan kasus-kasus serupa, di mana tokoh “spiritual” melakukan pelecehan dan pemaksaan terhadap pengikutnya. Sayangnya, banyak dari mereka sulit dijerat hukum karena korban enggan speak up — merasa bersalah, takut dosa, atau mengira bahwa apa yang mereka alami adalah bentuk “pengabdian”.
Kenapa Masih Banyak yang Terjebak?
Salah satu pertanyaan besar dari netizen adalah: “Kenapa sih masih ada aja yang percaya sama tokoh kayak Walid?” Jawabannya nggak sesimpel “karena bodoh” atau “kurang iman.” Menurut Anastasia, faktor utama adalah rendahnya literasi dan daya kritis terhadap ajaran agama.
Di banyak kasus, korban tidak dibekali pengetahuan agama yang merata. Mereka hanya belajar dari satu orang yang dianggap “ustaz sejati,” tanpa mempertanyakan kebenaran ajarannya. Dalam situasi ini, pelaku punya kendali penuh atas interpretasi teks agama — dan bisa dengan mudah memelintirnya demi keuntungan pribadi.
Selain itu, banyak korban yang justru memaknai pelecehan atau pemaksaan sebagai bentuk cinta dan keistimewaan. “Dia pilih aku karena aku istimewa,” pikir mereka. Padahal, itu hanyalah doktrin palsu yang ditanamkan secara bertahap. Hal inilah yang membuat korban sulit menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.
Pentingnya Membangun Tameng dari Dalam Diri
Di tengah gempuran simbol-simbol agama yang makin mudah diakses, masyarakat dituntut untuk tidak hanya taat, tapi juga cerdas. Cerdas dalam menyerap ajaran, memilih panutan, dan memahami batasan antara spiritualitas dan manipulasi.
Anastasia menekankan perlunya memperkuat literasi dan kebiasaan berpikir kritis. Belajar agama bukan dari satu sosok saja, tapi dari banyak sumber yang kredibel. Terbuka untuk berdiskusi, bahkan dengan keluarga atau teman terdekat, juga penting. Kadang, sudut pandang kedua atau ketiga bisa jadi penyelamat ketika kita mulai ragu dengan situasi yang kita hadapi.
Dan yang nggak kalah penting: berani speak up. Budaya diam dan pasrah sering jadi alasan kenapa korban makin sulit lepas dari jerat manipulasi. Mengungkap apa yang kita alami ke orang terdekat bisa jadi langkah pertama menuju penyelamatan diri.
Realita yang Tidak Bisa Diabaikan
Fakta bahwa serial Bidaah berhasil menembus 1 miliar penonton adalah bukti bahwa isu ini sangat relevan dan menyentuh banyak orang. Bahkan, antusiasme publik Indonesia terhadap drama ini menunjukkan bahwa kesadaran kita terhadap bahaya manipulasi agama mulai tumbuh. Namun, pertanyaannya sekarang: cukupkah hanya dengan menonton dan bersimpati?
Jawabannya tentu tidak. Perlu aksi nyata — baik secara individu maupun kolektif — untuk mencegah kejadian serupa terjadi di lingkungan sekitar kita. Kita bisa mulai dari hal sederhana, seperti tidak mudah percaya pada ajaran yang hanya disampaikan secara lisan tanpa rujukan jelas, atau mengingatkan teman yang mulai tertutup dan terisolasi karena mengikuti sosok tertentu.
Lebih jauh lagi, penting bagi pemerintah dan lembaga sosial untuk lebih proaktif mendampingi korban, membongkar sekte-sekte tertutup, dan memberikan edukasi agama yang sehat dan merata. Jangan sampai kasus seperti yang digambarkan di Bidaah menjadi kenyataan yang terus terulang.
Penutup: Kita Tidak Boleh Lengah
Drama Bidaah mungkin hanyalah cerita fiksi, tapi pesan yang dibawa sangat nyata dan menyentuh nurani. Ia mengingatkan kita bahwa kekuatan simbol bisa jadi alat manipulasi, bahwa kepercayaan buta bisa membawa celaka, dan bahwa pendidikan spiritual harus berjalan beriringan dengan kecerdasan berpikir.
Kita hidup di zaman di mana informasi bisa dengan mudah diakses, tapi justru karena itulah kita harus lebih waspada. Jangan sampai kemasan religius yang indah menutupi motif busuk di dalamnya. Saatnya buka mata, buka hati, dan lebih berani berkata “tidak” pada manipulasi berkedok agama.
Kalau kamu punya teman atau saudara yang mulai mengikuti ajaran yang terasa janggal, jangan diam. Ajak ngobrol, beri ruang diskusi, dan kalau perlu, ajak cari bantuan profesional. Karena menyelamatkan satu jiwa dari jeratan manipulasi bisa jadi lebih berharga dari sekadar ikut tren viral.
💬 Kamu sendiri pernah nggak sih, ketemu sosok “religius” yang ternyata manipulatif? Ceritain di kolom komentar dan yuk mulai diskusi yang sehat!

Saya adalah Priyo Harjiyono, S.Pd, M.Kom bekerja sebagai guru produktif TKJ SMK Bina Harapan yang sering mengarahkan siswa melaksanakan prakerin dan persiapan masuk ke dunia kerja, selain itu saya adalah seorang blogger, SEO specialist dan sering menjadi narasumber untuk implementasi digital bisnis UMKM
Ingin produk/website Anda kami ulas? Silahkan klik tombol dibawah ini







